Batubara merupakan salah satu komoditas energi fosil yang memiliki sifat kimiawi alami unik yang sensitif terhadap paparan udara luar, yaitu mudah mengalami proses oksidasi yang melepaskan energi panas secara perlahan. Jika batubara ditumpuk dalam jangka waktu lama di area stockpile tanpa mengikuti kaidah manajemen penimbunan yang benar, akumulasi panas internal di dalam tumpukan tersebut dapat melewati titik kritisnya dan memicu terjadinya fenomena swabakar atau kebakaran mandiri secara alami (self-combustion).

Metode Pemadatan Lapisan Compaction

Cara paling efektif untuk meminimalkan risiko self-combustion adalah membatasi pasokan oksigen yang masuk ke dalam sela-sela tumpukan batubara. Hal ini dilakukan dengan menerapkan metode penimbunan berlapis disertai pemadatan mekanis (compaction) menggunakan alat berat bulldozer. Setiap lapisan batubara setebal setengah meter yang dihamparkan wajib digilas berulang kali oleh track bulldozer hingga padat sebelum lapisan berikutnya ditumpuk di atasnya, sehingga ruang pori-pori udara di dalam tumpukan hilang.

Pemantauan Suhu Internal Kontinu dan Sistem Semprot

Petugas pengawas stockpile harus dilengkapi dengan alat pengukur suhu internal (thermal probe) untuk memantau fluktuasi temperatur di dalam tumpukan batubara secara berkala setiap harinya. Jika terdeteksi adanya kenaikan suhu yang mendekati batas rawan enam puluh derajat celsius, tindakan mitigasi berupa pembongkaran tumpukan atau penyemprotan air halus (water mist) harus segera dilakukan. Pengaturan sistem sirkulasi stok batubara berdasarkan prinsip penimbunan teratur juga efektif mencegah batubara mengendap terlalu lama.